Suamiku,
Aku mengizinkanmu
Untuk menikah
Hingga empat kali.
Pertama menikahiku
Lalu menikahiku
Menikahiku
Dan terakhir, menikahiku
Mungkin ada banyak reaksi yang terlukis di wajah Anda semua saat membaca syair di atas. Mulai dari yang melukiskan senyum seraya berbisik, “Aha, penulis lebay!” Lalu yang geleng-geleng kepala seraya mengelus dada—menahan sabar atas ‘kenakalan’ syair itu.










