Buku terbaru kami

Sayap-Sayap Sakinah

Author

Riawani Elyta

BUKU TERBARU KAMI

SAYAP-SAYAP SAKINAH, segera dapatkan di toko buku

AUTHOR

AFIFAH AFRA

Buku Terbaru Kami

SAYAP-SAYAP SAKINAH

Showing posts with label AKHLAK. Show all posts
Showing posts with label AKHLAK. Show all posts

Istri Bertipe 1000, 1 atau 000?



Kita tentu sering mendengar hadist Rasulullah yang artinya seperti ini:

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia." (Muttafaq Alaihi dan Imam Lima).

Terkait dengan hadist tersebut, dalam sebuah kesempatan, Ustadz Hatta Syamsuddin, Lc., pernah menguraikan suatu hal yang menarik. “Agama, ibarat angka satu. Lalu tiga hal yang lain adalah angka nol di belakang angka satu. Angka sempurna adalah 1000. Tetapi jika agama dihilangkan, tinggallah tiga buah nol yang sama sekali tak ada artinya,” papar beliau.

Uraian dari Ustadz Hatta itu bisa dijabarkan demikian. Perempuan memiliki agama yang bagus, nilainya adalah 1. Jika dia juga cantik, nilainya jadi 10. Jika selain cantik, dia berasal dari keturunan yang baik, nilainya menjadi 100. Dan, apabila dia memiliki harta melimpah—kaya raya, nilainya menjadi 1000.

Jadi, wanita yang memiliki empat hal tersebut, harta, keturunan, kecantikan dan agama, bisa dikatakan bernilai 1000. Orang-orang semacam Ratu Bilqis atau Bunda Khadijah, adalah sosok-sosok wanita tipe ini. Siapa sih, yang tak mendambahkan pasangan semacam ini?

Akan tetapi, jika yang dimiliki hanya kecantikan, harta, dan keturunan, sementara agamanya buruk, dia ibarat bernilai 000, yang artinya nol belaka. Angka nol jelas lebih buruk ketimbang sekadar angka 1, yakni perempuan yang ‘hanya’ memiliki agama semata. Sayang, banyak pemuda yang terpedaya dan lebih bernafsu mengejar nol-nol yang sebenarnya hanya penyempurna semata.

Bagus, sih, punya istri bertipe 1000. Tetapi, perempuan tipe ini jarang sekali. Kalaupun ada, apa iya selevel dengan si pemuda? Ketimbang sibuk mengejar nol-nol fatamorgana, bagaimana jika lebih berkonsentrasi mengejar si angka 1? [U.S.].

Cobaan Istri Saat Miskin, Cobaan Suami Saat Kaya

Ada hal menarik yang diungkapkan oleh Ustadz Hatta Syamsuddin, Lc., M.Ag., pada saat mengisi Seminar Pranikah yang diselenggarakan kerjasama Penerbit Indiva Media Kreasi, Sayap Sakinah Center dan LAZIS UNS beberapa waktu yang lalu. Kata beliau, "Cobaan istri, adalah saat suami tak punya apa-apa. Sedangkan cobaan suami, adalah ketika dia sudah memiliki apa-apa."

Lebih lanjut ditegaskan oleh Ustadz Hatta, bahwa banyak kasus para istri tak sabar melihat suaminya tak mampu memberikan banyak nafkah. Sementara, setelah sang suami bergelimang kekayaan, giliran suaminya yang tak sabar untuk segera 'buka cabang' alias poligami. Repotnya, 'buka cabang' itu seringkali tidak melalui proses ilegal, sehingga akhirnya yang muncul adalah selingkuh.

Kemiskinan, memang banyak membuat para istri mengeluh. Sekilas bisa dimaklumi, karena kebutuhan hidup, kian lama memang kian tinggi. Tetapi, sesungguhnya tak ada suami--khususnya para suami yang bertanggungjawab--yang menginginkan kondisi tersebut terjadi. Secara sunnatullah, manusia memang diberikan beberapa ujian, salah satunya ujian kekurangan harta. Al-Quran juga menyebutkan. Maka, bersabar--dengan terus memotivasi suami, serta berupaya ikut serta mencari tambahan penghasilan, tentu jauh lebih mulia ketimbang kesana kemari mengumbar keluhan.

Sementara, kekayaan, sering membuat para suami lupa daratan, sehingga akhirnya memilih 'menyakiti' si istri dengan sibuk mencari kemungkinan untuk poligami. Ops, sebenarnya poligami itu bukan sesuatu yang dilarang agama, tetapi syarat dan ketentuan berlaku, lho. Syarat utama adalah ADIL. Alih-alih bersikap adil, sering pada praktiknya para suami justru menjadi poligami sebagai kesempatan mengumbar hawa nafsunya.

Lepas dari itu, sepasang suami istri harus terus menerus menjaga visi dan komitmennya dalam membentuk rumah tangga. Menurut mbak Afifah Afra, nikah itu bukan sekadar legitimasi ketika "Aku suka elo, elo suka aku". Tetapi, menikah adalah sebuah proses suci yang menginisiasi terbentuknya masyarakat Islami. Keluarga sakinah, ada batu bata terbentuknya masyarakat yang rabbaniyyah. "Jadi, para suami dan istri harus benar-benar menyadari misi suci ini. Keluarga yang tak sakinah, ibarat batu bata keropos. "Terbayang, kan, jika sebuah bangunan dibentuk dari bahan yang keropos? Ambruk, dong!" pungkas beliau. [US].

KELAPARAN EGO

Saya pernah dibuat ternganga oleh perilaku seorang kenalan, yang dengan enteng memaki seorang pengemis yang meminta sedekah kepadanya. Bermasa terlewat, saya sibuk mencari jawab, apa sebenarnya yang membuat kenalan saya tersebut ‘kehilangan nurani’nya dan dengan tega mengusir pengemis tersebut. Padahal, tuntutan pengemis itu tidak banyak, hanya sekeping logam 100 rupiah, yang jika dibelikan makanan paling-paling hanya mendapatkan sepotong kerupuk.
Maka, ketika istilah ‘kelaparan ego’ diperkenalkan oleh Less Giblin dalam buku Seni Membina Hubungan dengan Orang Lain (diterbitkan oleh Gramedia), saya dibuat terhenyak. Menurut Less Giblin, ego (konsep diri) juga bisa lapar. Dan orang yang kelaparan egonya, tak akan mungkin mampu berbagi dengan tulus, kepada orang lain. Dengan kata lain, hanya orang yang egonya telah ‘kenyang’lah yang mampu menjalin hubungan mesra, tanpa reserve, dengan orang lain. Orang semacam inilah yang akan mampu membina hubungan baik dengan siapapun, meskipun partner tersebut adalah sosok yang jutek, egois, suka menggosip… yakni orang-orang yang egonya masih lapar.
Penjelasan dari ungkapan Giblin adalah sebagai berikut. Setiap orang pasti memiliki gambaran diri yang ideal (self ideal), yang pada masing-masing orang berbeda-beda, tergantung ideologi kehidupan yang dianutnya. Pada seorang Muslimah, sosok ideal yang diharapkan melekat pada dirinya adalah sosok mujahidah yang kuat dzikir, kuat fikir, kuat badan, kuat ma’isyah, kuat ibadah, kuat segalanya. Sayang, dalam tataran real, kita harus terbentur pada kenyataan akan diri kita yang sebenarnya (self image). Misalnya, sosok kita yang malas beribadah, sakit-sakitan, otak cupet, senantiasa terbentur masalah ekonomi dan sebagainya.
Semakin dekat self image dengan self ideal, maka seseorang akan semakin mencintai dirinya sendiri. Ia adalah orang yang kenyang egonya. Sedangkan semakin jauh self image dengan self ideal, maka seseorang akan semakin membenci dirinya sendiri. Ia adalah orang yang kelaparan egonya. Yang menginginkan sesuatu yang serba ideal, namun tak berdaya, atau tak kuat usahanya dalam mencapai idealisme tersebut.
Sekali lagi, orang yang mampu ikhlas berbagi, adalah orang yang telah kenyang ego. Inilah barangkali rahasia di balik hadist nabi yang berbunyi,
Belum sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
Ada persyaratan yang digariskan Nabi, yakni mencintai dirinya sebelum ia mencintai dirinya sendiri. Hanya orang yang telah mampu mencintai dirinya yang bisa ikhlas mencintai orang lain. Orang yang mencintai dirinya adalah orang yang telah mengenal siapa dirinya, mengerti apa kekurangan kelebihannya, mengerti hak-hak dan kewajibannya sebagai manusia sebagai hamba Allah. Oleh karenanya, pengenalan terhadap diri sendiri merupakan suatu hal yang diwajibkan sebagaimana firman Allah,
dan pada dirimu, maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz-Dzaariyaat: 21).
Bagaimana dengan yang terjadi pada kenalan saya tersebut? Maaf, bukannya sedang membuka aib. Dia adalah orang yang secara pengamalan agama sangat kurang, pendidikan rendah, bahkan penghasilannya pun pas-pasan. Dari segi apapun, dia adalah orang yang ‘kelaparan.’ Bagaimana bisa orang yang kelaparan berbagai ‘makanan’ dengan orang-orang yang sama-sama kelaparan?
Semoga kita bukan termasuk orang yang lapar egonya.

Wallahu a’lam bish-showwab.