Buku terbaru kami

Sayap-Sayap Sakinah

Author

Riawani Elyta

BUKU TERBARU KAMI

SAYAP-SAYAP SAKINAH, segera dapatkan di toko buku

AUTHOR

AFIFAH AFRA

Buku Terbaru Kami

SAYAP-SAYAP SAKINAH

Showing posts with label PERNIKAHAN. Show all posts
Showing posts with label PERNIKAHAN. Show all posts

Positif Negatif Nikah Muda

Sudah sejak lama wacana pernikahan muda menjadi perbincangan di sekitar kita, kaum ilmuwan dan agama memiliki pandangan yang kadang berbeda untuk urusan yang satu ini. Apalagi di Indonesia, usia pasangan yang menikah rata-rata terjadi antara 25 hingga 27 tahun. Kebiasaan itulah yang menyebabkan usia pengantin yang berada di bawah itu biasanya masih dipandang aneh.
Kalau kita bicara soal nikah muda, ini sebenarnya adalah sebuah hal yang tidak bisa diplot begitu saja, sebab pernikahan (atau jodoh) termasuk ke dalam konsep freewill yang merupakan hak prerogatif Tuhan (selain juga rejeki dan kematian). Artinya, bisa saja kita adalah orang yang setuju pada konsep nikah muda, berbagai planning dan usaha sudah kita lakukan untuk mewujudkan konsep tersebut, tapi kalau jodoh belum datang, kita bisa apa?
Tapi memang ada baiknya jika kita meninjau konsep nikah muda dari kedua sisi, positif dan negatif. Hal ini penting agar kita tidak terkesan men-judge sesuatu secara hitam putih. Sebab segala sesuatu di dunia ini pasti memiliki sisi baik dan buruk, tinggal kita saja yang harus menentukan pilihan.
Keuntungan menikah muda antara lain: kala itu pasangan sedang dalam masa bersemangat. Sehingga saat memulai rumah yang tangga, ada energi besar untuk mengurus keluarga. Begitu juga soal kondisi kesehatan, biasanya di usia muda kondisi fisik masih baik, sehingga kesiapan untuk bekerja keras, menjalani kehamilan, dan berbagai aspek lain tentu akan lebih bagus.
Lalu yang penting adalah kedua pasangan akan punya banyak waktu untuk mengenal karakter masing-masing. Mungkin awalnya ada sedikit konflik, tetapi bukankah konflik merupakan bumbu rumah tangga? Jika pasangan usia muda bisa mengelola konflik dengan baik, ikatan pernikahan justru semakin kencang.
Lalu kelemahannya: biasanyakedua pasangan akan kaget dengan rutinitas baru setelah menikah, bahkan tidak sedikit yang melihat pasangannya berubah, tidak lagi sempurna dan manis seperti saat pacaran. Pasangan yang tidak bisa mengelola perubahan ini biasanya akan depresi dan tertekan, tidak bahagia dengan pernikahannya. Apalagi kita sama-sama tahu, merawat dan mengasuh anak bukan pekerjaan mudah, mereka (terutama perempuan) yang menikah di usia muda seringkali mengorbankan karir untuk mengurus anaknya. Beberapa diantara mereka merasa menyesal karena pengorbanan ini tidak menghasilkan materi.
Secara psikologis, nikah muda bisa mendatangkan neoretis depresi, atau depresi berat. Jika orang yang terkena depresi itu termasuk pribadi introvert (tertutup) akan membuat seseorang menarik diri dari pergaulan. Dia menjadi pendiam, tidak mau bergaul, bahkan menjadi seorang yang schizoprenia atau dalam bahasa awam yang dikenal orang adalah gila. Sedang depresi berat pada pribadi ekstrovert (terbuka) maka dia akan terdorong melakukan hal-hal aneh untuk melampiaskan amarahnya. Seperti, perang piring, anak dicekik dan sebagainya. Dengan kata lain, secara psikologis kedua bentuk depresi sama-sama berbahaya.

Lebih parah lagi, seiring berjalannya waktu, beberapa pasangan akan merasakan bahwa cinta yang awalnya menggebu jadi datar dan hanya sekedar formalitas saja. Tidak jarang pada pasangan yang menikah muda, rentan perselingkuhan dan perceraian.
Itulah sisi positif dan negatif nikah muda, setelah disajikan fakta ini maka selanjutnya terserah kita.apapun pilihan akhirnya, pernikahan adalah soal pilihan. Di usia berapapun kita menikah, selama bisa mengatasi rintangan dengan baik, maka pernikahan akan menjadi media yang memberi kebahagiaan dan pelajaran menyenangkan.[fm]

Istri Bertipe 1000, 1 atau 000?



Kita tentu sering mendengar hadist Rasulullah yang artinya seperti ini:

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia." (Muttafaq Alaihi dan Imam Lima).

Terkait dengan hadist tersebut, dalam sebuah kesempatan, Ustadz Hatta Syamsuddin, Lc., pernah menguraikan suatu hal yang menarik. “Agama, ibarat angka satu. Lalu tiga hal yang lain adalah angka nol di belakang angka satu. Angka sempurna adalah 1000. Tetapi jika agama dihilangkan, tinggallah tiga buah nol yang sama sekali tak ada artinya,” papar beliau.

Uraian dari Ustadz Hatta itu bisa dijabarkan demikian. Perempuan memiliki agama yang bagus, nilainya adalah 1. Jika dia juga cantik, nilainya jadi 10. Jika selain cantik, dia berasal dari keturunan yang baik, nilainya menjadi 100. Dan, apabila dia memiliki harta melimpah—kaya raya, nilainya menjadi 1000.

Jadi, wanita yang memiliki empat hal tersebut, harta, keturunan, kecantikan dan agama, bisa dikatakan bernilai 1000. Orang-orang semacam Ratu Bilqis atau Bunda Khadijah, adalah sosok-sosok wanita tipe ini. Siapa sih, yang tak mendambahkan pasangan semacam ini?

Akan tetapi, jika yang dimiliki hanya kecantikan, harta, dan keturunan, sementara agamanya buruk, dia ibarat bernilai 000, yang artinya nol belaka. Angka nol jelas lebih buruk ketimbang sekadar angka 1, yakni perempuan yang ‘hanya’ memiliki agama semata. Sayang, banyak pemuda yang terpedaya dan lebih bernafsu mengejar nol-nol yang sebenarnya hanya penyempurna semata.

Bagus, sih, punya istri bertipe 1000. Tetapi, perempuan tipe ini jarang sekali. Kalaupun ada, apa iya selevel dengan si pemuda? Ketimbang sibuk mengejar nol-nol fatamorgana, bagaimana jika lebih berkonsentrasi mengejar si angka 1? [U.S.].

17 Perempuan Yang Haram Dinikah

Anda lelaki yang sudah siap menikah? Umur sudah cukup, penghasilan lumayan, sudah siap lahir batin untuk menikah. Mengapa masih menunda pernikahan? Lihatlah, di kanan-kiri Anda, para perempuan siap Anda lamar.
Ops, tapi hati-hati! Ada 17 jenis perempuan yang terlarang untuk Anda nikahi. Sudah tahukah siapa saja mereka? 15 jenis perempuan terlarang tertera dalam Al-Quran surat An-Nisa: 22-24. Sedangkan yang ke-16 tertera di Al-Quran surat Al-Baqarah: 221, dan ke-17 dalilnya bisa Anda cek di surat An-Nuur: 3.
Siapa saja mereka?
  1. Ibu kandung
  2. Ibu tiri, baik yang masih terikat pernikahan dengan ayah, atau sudah dicerai atau ditinggal mati ayah Anda
  3. Anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya
  4. Saudara perempuan, baik kandung, seayah maupun seibu
  5. ‘Ammah, alias saudara perempuan ayah, baik kandung, seayah maupun seibu
  6. ‘Khalaah, alias saudara perempuan ibu, baik kandung, seayah maupun seibu
  7. Anak perempuan saudara laki-laki
  8. Anak perempuan saudara perempuan
  9. Wanita yang pernah menyusui. Menurut Syaikh Yusuf Qardhawi, minimal lima kali susuan yang mengenyangkan. Susuan yang mengenyangkan adalah susuan anak yang melepaskan puting dengan sendirinya karena kenyang.
  10. Saudara perempuan sepersusuan. Syarat susuannya sama dengan nomor 9
  11. Ibu sang istri (mertua)
  12. Rabiibah, yaitu putri dari istri yang telah dijimak (digauli). Jika belum digauli, tak mengapa dinikahi.
  13.  Istri anak (menantu)
  14. Menghimpun 2 perempuan yang bersaudara dalam satu waktu sebagai istri. Sementara, jika bergantian, misal setelah kakaknya meninggal lalu menikahi adiknya, hal tersebut diperbolehkan
  15. Perempuan yang bersuami
  16. Perempuan musyrik/kafir. Adapun perempuan ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani, Al-Quran membolehkan mereka dinikahi. Sebaliknya, perempuan muslimah dilarang menikah dengan lelaki ahli kitab. Akan tetapi, jika kita melihat bahwa tujuan pernikahan adalah membentuk bahan baku bangunan umat yang Islami, syarat dan ketentuan berlaku pada bahasan ini. Kita akan mencoba membahasnya di lain kesempatan.
  17.  Perempuan pezina. Yakni perempuan yang terang-terangan menjadikan zina sebagai profesinya, misalnya pelacur.
Demikianlah 17 jenis perempuan yang haram dinikahi.


Sumber: Halal & Haram, Dr. Yusuf Qardhawi

Bolehkah Menikah Karena Terpaksa?

Orang Indonesia tentu mengenal cerita Siti Nurbaya, yang selain bukunya masih beredar di perpustakaan-perpustakaan, juga sinetronnya yang tayang di TVRI belasan tahun silam, sempat ngetop di kalangan masyarakat. Kisah Siti Nurbaya yang menikah paksa, sepertinya juga merupakan cerminan realitas masyarakat. Bukan hanya zaman dahulu, zaman sekarang, perjodohan paksa pun masih banyak terjadi. Bukan perjodohannya yang dilarang, tetapi paksaan itulah yang harus dikritisi. Bolehkan menikah karena terpaksa?

Dalam buku Halal-Haram, DR. Yusuf Qardhawi menukil sebuah hadist riwayat  Ibnu Majah, tentang seorang gadis yang mengadu kepada Rasulullah. Dia melaporkan, bahwa ayahnya telah mengawinkannya dengan sepupunya, padahal dia tidak menyukainya. Lalu Nabi menyerahkan permasalahan itu kepada sikap si gadis. Dan gadis itu berkata, “Sebenarnya saya rela dengan perlakuan ayah saya, tetapi saya ingin memberitahukan kepada kaum perempuan, bahwa seorang ayah tidak boleh memaksakan kehendaknya dalam hal ini.”

Dalam hadist lain, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Janda lebih berhak atas dirinya dibanding walinya. Sedangkan gadis diminta izin tentang urusan dirinya. Izinnya adalah diamnya.” (H.R. Muttafaqun ‘Alaih).

Diam di sini merujuk pada sikap sebagian besar gadis yang biasanya malu mengungkapkan isi hatinya, sehingga tidak bisa ditafsiri begitu saja. Diam, namun terisak-isak dengan wajah merah-padam yang menunjukan bahasa tubuh penolakan, tentu tak bisa dikatakan sebagai kesediaan menikah. Wallahu a’lam.

Tetapi, hal ini menjadi peringatan serius bagi para gadis. Jika memang Anda tidak bersedia menikah dengan lelaki yang melamar Anda, ungkapkan dengan jelas, namun cara yang baik, sehingga tidak menyakiti. Penolakan kasar tentu akan menimbulkan perasaan tidak enak, bahkan terluka di pihak pelamar. Anda harus terbuka, tetapi tetap menjaga perasaan. [U.S.].

Menjaga Kehormatan Istri

Sembari berlinang air mata, Shafiyah mendatangi Rasulullah SAW, suaminya. Pengaduannya mengalir dari mulutnya, dan disimak dengan seksama oleh Rasul. Ternyata, Shafiyah baru saja berselisih dengan Aisyah dan Hafshah. Kata Hafshah dan Aisyah kepada Shafiyah, “Kami ini lebih mulia kedudukannya di mata Rasulullah di mata kamu!”

Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, berbeda dengan istri-istri lainnya, berasal dari Yahudi, khususnya Bani Nadhir. Betapa terpukulnya Shafiyah mendengarkan perkataan kedua madunya itu. Yahudi memang kaum yang banyak disebut-sebut keburukannya di dalam Al-Quran. Apalagi, Bani Nadhir juga berkhianat kepada Kaum Muslimin dan akhirnya terjadi peperangan. Seluruh Bani Nadhir akhirnya diusir dari Madinah.

Mendengar pengaduan istrinya, Nabi dengan penuh kasih berkata, “Tidakkah engkau mengatakan kepada mereka berdua, ‘Bagaimana kalian lebih mulia dariku, sementara suamiku adalah Muhammad, ayahku adalah Harun, dan pamanku adalah Musa.’”

Shafiyah memang keturunan dari Harun bin Imran bin Qahits bin Lawi bin Israel bin Ishaq bin Ibrahim. Dia dikenal sangat jelita dan berkulit putih. Sebelum menikah dengan Muhammad SAW, Shafiyah pernah menikah dua kali dengan pemuka dari kalangan Yahudi. Setelah masuk Islam, dia menerima pinangan Rasulullah SAW.

Kita bisa melihat, betapa Rasulullah sangat memperhatikan dan menjaga kehormatan istrinya, meski dia berasal dari bangsa yang sangat memusuhi Rasulullah. Rasul berusaha membesarkan hati istrinya, dan bahkan pernah mendiamkan salah seorang istrinya, Zainab, yang mencela Shafiyah sebagai perempuan Yahudi.


Alih-alih menjaga kehormatan, kadang kita melihat para suami malah dengan santainya membeberkan aib dan keburukan pasangannya di depan orang lain. Demikian juga sebaliknya. Bukankah istri atau suami adalah pakaian kita? Jika dia kumal, sesungguhnya kita pun kumal. Membeberkan ‘kekumalan istri’, bukankah sama dengan membeberkan kekumalan diri? [U.S.].

Menikahlah, Karena Ini Sunnahku

Johan galau bukan main. Usianya sudah masuk kepala tiga, namun belum juga memiliki pasangan sah (istri). Sebenarnya, Johan sudah bekerja. Penghasilannya pun lumayan. Namun, Johan merasa bahwa untuk bisa menjadi seorang suami dan ayah yang gagah, dia harus memiliki penghasilan berlimpah. Paling tidak, dia punya rumah, mobil sendiri, dan simpanan yang cukup. Masak istri ditaruh di rumah kontrakan, begitu pikirnya. Tetapi, meski telah bekerja sekeras-kerasnya, Johan tetap belum juga mendapatkan apa yang diinginkannya.

Kalau kita melihat masyarakat kita, orang-orang yang berpikiran seperti Johan, ternyata cukup banyak jumlahnya. Orang yang memilih menunda pernikahan dengan alasan belum siap. Padahal, secara umur, dia sudah lebih dari cukup. Selain alasan ketidaksiapan, ada pula yang memilih membujang karena tak mau direpoti dengan anak dan istri. Bahkan, ada pula sahabat Rasul yang pernah mendatangi Rasulullah dan mengatakan bahwa tak ingin menikah karena ingin fokus beribadah.

Tiga orang sahabat pernah datang kepada Rasulullah dan bertekad untuk shalat malam dan puasa terus menerus, juga menjauhi perempuan dan tidak menikah selama-lamanya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah, bukankah aku ini orang yang paling bertakwa kepada Allah, tetapi aku tetap berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, juga menikah. Barangsiapa membenci sunnahku, berarti ia bukan dari ummatku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ya, menikah adalah sunnah Rasul. Dalam Islam, menikah bukan sebuah perkara main-main. Afifah Afra, dalam buku “Panduan Amal Wanita Shalihah” bab Rumah Tangga menuliskan sebagai berikut:

Rumah tangga, bagi seorang muslim adalah hal yang sangat urgen. Islam memandang bahwa keluarga merupakan kebutuhan pokok dalam hidup bermasyarakat, yakni bahwa keluarga merupakan pondasi bagi sebuah masyarakat. Baik-buruknya keluarga, akan berpengaruh terhadap baik-buruknya masyarakat. Masyarakat Islami, terdiri dari keluarga-keluarga yang Islami. Mereka ibarat batu bata-batu bata berkualitas tinggi. Sedangkan masyarakat jahiliyah, dibentuk dari keluarga-keluarga yang abai terhadap perintah Allah dan justru melaksanakan apa-apa yang dilarang Allah SWT. Itulah batu bata-batu bata yang keropos. Seperti apa tingkat kekokohan ‘bangunan’ sebuah masyarakat, tengoklah bagaimana kualitas keluarga-keluarga yang menyusunnya.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. an-Nisa’: 1).

Dari ayat tersebut, jelas terlihat, bahwa dari sepasang lelaki dan perempuan, akan berkembang biak menjadi lelaki dan perempuan yang banyak. Kualitas lelaki dan perempuan yang banyak itu, akan sangat dipengaruhi oleh kualitas sepasang lelaki dan perempuan yang menurunkan banyak generasi tersebut. Kesimpulannya, bahwa umat yang bertauhid, pertama kali dibentuk oleh keluarga yang juga bertauhid; sedangkan keluarga yang bertauhid, terbentuk dari sepasang lelaki dan perempuan yang juga bertauhid. Tanpa adanya lelaki dan perempuan beriman yang membentuk keluarga yang juga beriman, tak mungkin Islam tegak di muka bumi ini sebagai sebuah agama yang bersifar rahmatan lil ‘alamin.

Oleh karenanya, dorongan untuk berumah tangga sangat kuat dalam Islam. Perjodohan antara seorang lelaki dengan seorang perempuan, adalah bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Allah SWT berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. ar-Rum: 21).

Nah, masih ada yang belum tergerak hatinya untuk menikah? [US].


Cobaan Istri Saat Miskin, Cobaan Suami Saat Kaya

Ada hal menarik yang diungkapkan oleh Ustadz Hatta Syamsuddin, Lc., M.Ag., pada saat mengisi Seminar Pranikah yang diselenggarakan kerjasama Penerbit Indiva Media Kreasi, Sayap Sakinah Center dan LAZIS UNS beberapa waktu yang lalu. Kata beliau, "Cobaan istri, adalah saat suami tak punya apa-apa. Sedangkan cobaan suami, adalah ketika dia sudah memiliki apa-apa."

Lebih lanjut ditegaskan oleh Ustadz Hatta, bahwa banyak kasus para istri tak sabar melihat suaminya tak mampu memberikan banyak nafkah. Sementara, setelah sang suami bergelimang kekayaan, giliran suaminya yang tak sabar untuk segera 'buka cabang' alias poligami. Repotnya, 'buka cabang' itu seringkali tidak melalui proses ilegal, sehingga akhirnya yang muncul adalah selingkuh.

Kemiskinan, memang banyak membuat para istri mengeluh. Sekilas bisa dimaklumi, karena kebutuhan hidup, kian lama memang kian tinggi. Tetapi, sesungguhnya tak ada suami--khususnya para suami yang bertanggungjawab--yang menginginkan kondisi tersebut terjadi. Secara sunnatullah, manusia memang diberikan beberapa ujian, salah satunya ujian kekurangan harta. Al-Quran juga menyebutkan. Maka, bersabar--dengan terus memotivasi suami, serta berupaya ikut serta mencari tambahan penghasilan, tentu jauh lebih mulia ketimbang kesana kemari mengumbar keluhan.

Sementara, kekayaan, sering membuat para suami lupa daratan, sehingga akhirnya memilih 'menyakiti' si istri dengan sibuk mencari kemungkinan untuk poligami. Ops, sebenarnya poligami itu bukan sesuatu yang dilarang agama, tetapi syarat dan ketentuan berlaku, lho. Syarat utama adalah ADIL. Alih-alih bersikap adil, sering pada praktiknya para suami justru menjadi poligami sebagai kesempatan mengumbar hawa nafsunya.

Lepas dari itu, sepasang suami istri harus terus menerus menjaga visi dan komitmennya dalam membentuk rumah tangga. Menurut mbak Afifah Afra, nikah itu bukan sekadar legitimasi ketika "Aku suka elo, elo suka aku". Tetapi, menikah adalah sebuah proses suci yang menginisiasi terbentuknya masyarakat Islami. Keluarga sakinah, ada batu bata terbentuknya masyarakat yang rabbaniyyah. "Jadi, para suami dan istri harus benar-benar menyadari misi suci ini. Keluarga yang tak sakinah, ibarat batu bata keropos. "Terbayang, kan, jika sebuah bangunan dibentuk dari bahan yang keropos? Ambruk, dong!" pungkas beliau. [US].

Bekal Nikah Bag. 2: Persiapan Ruhiyah


Bismillahirahmanirrahiim ... mari kita mulai saja lanjutan kultwit #bekalnikah ... sudah siap menyimak?

1. Jika kemarin kita membahas #bekalnikah berupa persiapan fisik, sekarang kita akan bahas persiapan RUHIYAH.

2. Persiapan ruhiyah ini super-duper penting, lho ... bahkan bisa dikatakan panglima dari semua #bekalnikah

3. Untuk mengilustrasikan betapa kekuatan ruhiyah itu sangat dahsyat perannya, mari kita sejenak melihat saat Perang Badar

4. Tahu kan, sejarah Perang Badar? Saat itu, persiapan Kaum Muslimin sungguh sangat jauh dibanding Kaum Quraisy

5. Jumlah pasukan Kaum Muslimin saat itu hanya 313 orang, dengan senjata seadanya. Sementara, Quraisy 1000 orang bersenjata lengkap

6. Tetapi, kekuatan ruhiyah Kaum Muslimin luar biasa. Maka, Kaum Muslimin berhasil menang secara gemilang

7. Pada malam sebelum Perang Badar, Rasulullah berdoa hingga menangis terisak-isak, memohon agar Allah memberikan pertolongan

8. Doa Rasul dan para sahabat terkabul, Allah turunkan para malaikat untuk ikut berperang, dan menurunkan rasa kantuk pada lawan

9. Maka, seperti yang sudah kami sebut tadi, kaum muslimin yg secara personal, persenjataan dan materi kalah jauh, ternyata menang telak di Badar

10. Peristiwa Badar menunjukkan bahwa kekuatan ruhiyah luar biasa penting. Meski beda kasus, menata ruhiyah sbg #bekalnikah itu utama

11. Pada proses menikah, terjadi sebuah peristiwa akad, yang merupakan sebuah perjanjian agung--mitsaaqon gholidzo

12. Frase miitsaaqon gholiidzo disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 3x, merujuk pada sebuah makna yang sangat—teramat—dalam.

13. Pertama, di QS An-Nisa: 154. Saat Allah SWT mengangkat bukit Thursina untuk mengambil perjanjian & sumpah setia dari Bani Israil

14. Kedua, pada QS Al-Azhab: 7, yakni tentang perjanjian Allah dengan 5 nabi Ulul Azmi: Muhammad, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa

15. Ketiga, di QS. An-Nisa: 21, di ayat tersebut, miitsaaqon gholiidzo merujuk pada perjanjian kuat dalam pernikahan.

16. Nah, dengan kekuatan perjanjian yang begitu dahsyat, JANGAN ANGGAP SEPELE, sebuah proses akad nikah.

17. Banyak kasus terjadi, justru saat akad nikah, banyak pasangan yang saking tegangnya malah tak mampu mengucapkan kata apapun

18. Coba deh, teman-teman baca artikel bagus dari Kak @afifahafra79 --> http://www.afifahafra.net/2014/01/jangan-sepelekan-akad-nikah.html#more

19. Dengan kekuatan ruhiyah dari banyak berdoa, zikir, puasa, shalat malam, baca Al-Quran dll, insya Allah semua akan dimudahkan

20. Seorang sahabat pernah bertekad, menjadikan saat akad nikah sebagai saat di mana kondisi hatinya ada pada keimanan yang tinggi

21. Ya, jika kita perempuan, dengan nikah, kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada seorang lelaki yg menjadi qowwam kita.

22. Sementara, jika lelaki, dengan mengucap akad nikah, dia akan memiliki beban berat menafkahi lahir-batin.

23. Bagaimana mungkin dengan kejadian yang sangat penting dan besar buat kita, dan kita tidak memohon pertolongan-Nya?

24. Sayangnya, justru lebih banyak calon pengantin  lebih repot untuk urusan katering, gedung, kostum dll ketimbang menyucikan hati

25. Ops, bekal ruhiyah ini juga kudu tetap kita kuatkan, meski mungkin kita masih belum ada rencana menikah, lho...

26. Lantunkan doa dengan penuh kerendahan hati, agar kita diberikan jodoh yang shalih, mampu menjadi tambatan jiwa, penentram hati

27. Dan, jika jodoh sudah di ambang mata, tetaplah memohon agar dia memang jodoh yang terbaik, segala proses dimudahkan dst…

28. Mari jadikan hari pernikahan kita, bukan cuma sekadar penuh debar-debar cinta, tetapi juga penuh dengan kelezatan iman 

29. Dengan demikian, tatkala satu persatu tamu mendoakan kita, para penduduk langit pun mengamini doa sekalian penduduk bumi 

30. Demikian pembahasan #bekalnikah persiapan ruhiyah. Ihwal lainnya seperti finansial, sosial dll kan kami lanjut di lain kesempatan. 

Bekal Nikah Bag.1: Persiapan Fisik

Assalamu'alaikum, Sobat. Apa kabar semua? Semoga sehat-sehat senantiasa. Tempo hari, kami melakukan kultwit di akun twitter @sayapsakinah (follow, yuk!). dengan tema  “Bekal Nikah”. Tetapi, mengingat keterbatasan waktu,  tema “Bekal Nikah” yang dipaparkan baru sampai pada persiapan fisik. Insya Allah akan dilanjutkan di kultwit berikutnya. Nah, untuk memudahkan membaca, kami share kultwit tersebut di sini. Selamat membaca!

Bismillah, mari kita mulai kultwit #bekalnikah ... sudah pada mandi, shalat isya dan makan malam bukan? :-) #bnk

Berapa usia Anda sekarang? 17, 25? Meski idealnya #bekalnikah mulai dipersiapkan sedini mungkin, terlambat lebih baik daripada tidak #bnk

Banyak di antara para lajang yang kami lihat tak serius mempersiapkan #bekalnikah dengan alasan malu, malas, enggan dst #bnk

Ada juga yang bilang, "Ah, aku kan nikahnya masih lama." Atau, "Ih malu masih kecil bicara nikah." #bnk

Padahal, jodoh adalah 'misteri', bisa mendatangimu kapan saja, kadang tak terduga. Tanyakan ke seniormu, bgmn proses perjodohan mrk #bnk

Ada yang jodohnya datang 2 bulan sebelumnya tanpa pernah mengenal sebelumnya :-) #bnk

Intinya, jodoh bisa datang kapan saja, dan hampir semua orang akan menjalani bertemu jodoh lewat pernikahan #bnk

Dan, dalam pernikahan sendiri terdapat sebuah misi berat yang harus diemban umat manusia. Nikah adalah separuh agama. #bnk

Karena nikah adalah separo agama, maka ada separo agama yang tak kita amalkan jika kita tak menikah, alias betah melajang #bnk

Rasul bersabda, "siapa yang diberi Allah istri shalihah, maka Dia telah membantunya sempurnakan separo diin. Untuk itu, hendaklah dia bertakwa kepada Allah pada setengah lainnya." HR. Thabrani dan al-Hakim. #bnk

Rumah tangga yang sakinah, adalah kawah candradimuka terbentuknya generasi rabbani. Butuh persiapan memadai untuk menegakkannya. #bnk

Apa aja bekal itu? Meliputi persiapan fisik, ruhiyah, ilmu, ekonomi dan sosial. Mari kita bahas satu persatu. #bnk

FISIK. Tahukah kalian, bahwa kehidupan berumahtangga itu berat. Bisa dikatakan, pekerjaan istri dan ibu itu tak ada habis2nya #bnk

Belum lagi jika si istri juga bekerja di luar, dan punya aktivitas seabrek. Demikian juga suami yang bekerja keras mencari nafkah #bnk

Rumah tangga yang sehat pastilah dibangung oleh pasangan yang juga sehat dan kuat. Jadi, budayakan HIDUP SEHAT!!! #bnk

Banyak remaja putri senang mengonsumi makanan siap saji, junk food dll., yang berpengaruh buruk terhadap proses reproduksinya. #bnk

Olahraga juga sangat penting lho... kelak, jika kalian (putri) hamil dan melahirkan, tingkat kebugaran tubuh akan berpengaruh besar #bnk

Salah satu dari persiapan fisik yg penting adalah terampil dan cekatan dalam mengurusi soal-soal rumah tangga, lelaki maupun perempuan #bnk

Istri atau suami yang cekatan bisa mengerjakan banyak aktivitas dlm 1 waktu: cuci baju, menanak nasi, memasak sayur, menggoreng dll #bnk

Bahkan, sambil melakukan itu semua, masih disambi gendong anak, kasih ASI dan kelola onlineshop misalnya :-) #bnk

Bisa terampil gitu nggak cukup waktu singkat. Harus latihan, latihan dan latihan. #bnk

Jadi, jika kalian masih lajang, yuk melatih diri agar bisa trampil mengurusi berbagai pernak-pernik RT #bnk

Dulu, pernah ada 5 orang gadis dimintai tolong seorang ibu berputra 4 untuk menjaga anak2 krn beliau hendak pergi sekitar 2 jam... #bnk

Apa yang terjadi? 5 gadis itu tak sanggup mengurusi 4 anak, sementara saat si ibu kembali, dengan cepat semua tertangani #bnk

Tapi dengan bijak si ibu menasihati 5 gadis itu (salah satunya ya Mimin ini), bahwa beliau pun dulu begitu. Kagok. #bnk

Tetapi, beliau selalu belajar. Tak segan2 mendatangi para ibu dan membantunya mengasuhkan putranya, mengurus rumah dll #bnk

Nah, bagaimana para lajang sekarang? Hellooo... persiapan fisik itu bukan melulu belajar merias diri, spa, creambath dll :-p #bnk

Penampilan keren di depan suami/istri itu penting. Tapi kalau tidak terampil dalam urusan rumah tangga, akan jadi masalah besar #bnk