Buku terbaru kami

Sayap-Sayap Sakinah

Author

Riawani Elyta

BUKU TERBARU KAMI

SAYAP-SAYAP SAKINAH, segera dapatkan di toko buku

AUTHOR

AFIFAH AFRA

Buku Terbaru Kami

SAYAP-SAYAP SAKINAH

Showing posts with label PENDIDIKAN ANAK. Show all posts
Showing posts with label PENDIDIKAN ANAK. Show all posts

Anak-Anak dan Do'a

gambar dari www.islampos.com
Selepas pulang sekolah  tidak biasanya Nisa menangis dan langsung memeluk Bundanya, sang bunda kaget bukan kepalang, ada kejadian apa di sekolah hingga membuat anaknya menangis seperti ini. “Kenapa, Ada yang ganggu di sekolah?”
“Enggak bun”
“Terus kenapa?”
“Sama Bu Guru”
“Di marahin Bu Guru ya, kamu nakal ya di sekolah”
“Enggak, sama Bu Guru tadi di suruh menjamkan mata terus bayangin Ayah Bunda meninggal, terus di kubur, terus nanti aku gimana…..Bun maafin Nisa ya, suka nyusahin Bunda ama Ayah, Nisa sayang Bunda sama Ayah” melanjutkan nangis.

Pelukannya sangat erat seolah tak ingin terlepas tangisannya kembali pecah, sang bunda berusaha menenangkannya dengan berkata “Bunda sayang juga sama Nisa,  ya Ayah Bunda maafin. Yuk udah nangisnya lihat tuh seragamnya jadi basah.

Keesokan harinya sang ibu mengkonfiramsi kebenarannya pada bu guru, ternyata benar sang guru kemarin mengajak anak-anak termasuk nisa untuk berdoa bersama. Mereka disuruh pejamkan mata, dan membayangkan jika Ayah Bunda tiada, hanya doa-doa anak solehlah yang akan menolong Ayah Bunda  di alam kuburnya, saat itu satu kelas semuabnya menangis. Sang guru mengajak mereka untuk menjadi anak yang baik, menjadi anak yang selalu patuh pada orangtua dan sayang pada mereka.Hati sang Bunda semakin terenyuh betapa  hati anak-anak itu sangat peka terhadap doa dan kematian,  hati anak-anak masih sangat bening dan suci karena mereka belum banyak berbuat dosa.

Meskipun masih anak-anak ternyata mereka cukup mengerti dan bisa menghayati sebuah doa, hati anak-anak memang masih terpaut langsung dengan Sang Maha Pencipta dan hati mereka masih bersih dan suci sehingga bisa dengan mudah menghayati hingga berlinang air mata saat  melantunkan sebuah doa.

Menurut Ust. Abu Sauqi, pendiri LAZNAS RZI (Rumah Zakat Indonesia) anak-anak secara fitrah terhubung langsung dengan Allah, penjaga mereka adalah malaikat. Bila terbiasa berdoa, maka fitrah Robbaniahnya, fitrah untuk dekat dengan Penciptanya akan tumbuh dengan baik.  Selain itu dengan membiasakan anak-anak berdoa ada faedahnya anak jadi terbiasa berdoa dan faedahnya yang lebih besar adalah doa-doa anak sering didengar Allah karena kesucian dan kebersihan hati mereka, besar harapannya untuk dikabulkan segala doa-doanya.

Ketika anak-anak menjadikan Allah sebagai sumber cinta dan kedamaian hidup maka kelak hidup mereka akan dikaruniai kejernihan hati dan pikiran serta memperoleh berkahnya Allah. Selebihnya contoh dan pendidikan para orangtua akankah terus memupuk kencintaan mereka pada Allah lewat doa-doa atau melewatkan dan mengabaikan karunia yang luarbiasa ini begitu saja.

Selamat Hari Ayah!

Tanggal 12 November lalu adalah hari Ayah sedunia, sebagian dari kita mungkin tidakngeh karena faktanya memang hari ayah tidak sesemarak hari ibu. Ini wajar karena hari ayah sendiri memiliki sejarah dan penetapan tanggal yang simpang siur, beda misalnya dengan hari Valentine atau Natal yang seluruh dunia memiliki kesepakatan dalam tanggal masehi.

Contoh saja, ada literatur yang menyebutkan bahwa peringatan hari Ayah, pertama kali dirayakan pada tanggal 19 Juni, 1910, di Spokane, Amerika Serikat.Namun ada juga yang menyebutkan peringatan Hari Ayah pertama kali diadakan pada tanggal 5 Juli 190di Fairmont sebagai penghormatan atas tragedi bencana pertambangan ‘Monongah Mining”, yaitu bencana runtuhnya sebuah tambang yang 250 orang korbannya sudah memiliki anak istri.

Sementara itu negara-negara lain di dunia juga memperingati peringatan hari ayah pada tanggal yang berbeda-beda, seperti di Rusia yang diperingati setiap tanggal 23 Februari, sementara di Swiss dan Belgia tanggal 19 Maret. Lalu di Indonesia peringatan ini jatuh setiap tanggal 12 November, itupun tanpa latar belakang yang jelas.
Namun lepas dari itu,tetap saja para Ayah harus diakui sebagai pahlawan dan pejuang sejati bagi keluarga. Karena dalam hidup berkeluarga, keteladanan yang ditunjukkan sang Ayah adalah harta berharga bagi istri dan anak-anaknya. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadist

“Seorang laki-laki penggembala di dalam keluarganya dan ia akan dimintai pertanggjawaban tentang kepemimpinannya itu…”(HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang ayah adalah gembala, pengatur, dan penjaga. Jadi tugas para ayah sangat banyak, selain mencukupi kebutuhan keluarga dari segi ekonomi, para ayah juga harus turut serta dalam pendidikan anak-anaknya. Biasanya anak laki-laki akan berkata "Aku mau menjadi seperti ayahku nanti" dan anak perempuan akan berkata"Aku mau punya seorang suami yang seperti ayahku"

Dengan kata lain, tidak berlebihan jika kita sebutkan bahwa seorang ayah lebih berharga daripada 100 orang guru di sekolah.
Salah satu ilustrasi yang menarik adalah karikatur yang ditampilkan dalam Google Doodle, yaitu gambar kartun seorang ayah dan anaknya sedang mengendarai sebuah pesawat.

Meski kartun tersebut kelihatan sepele, namun secara tersirat, gambar itu mengandung kedalaman makna dan esensi yang paling penting dari peringatan hari Ayah,yaitu peran ayah sebagai pilot dalam arti yang sangat luas. Karena memang secara kodrati, lelaki diibaratkan sebagai pilot sekaligus nakhoda dalam sebuah pesawat terbang, dimana didalamnya terdapat keselamatan seluruh keluarga yang harus ia pertanggunjjawabkan, dan pada saatnya nanti akan estafet kepemimpinan yang akan diturunkan oleh Ayah kepada anaknya untuk dapat menerbangkan pesawat dengan selamat mencapai tujuan.

Menurut psikolog Kasandra Putranto, para ayah di mata anak laki-laki, adalah role model utama yang akan membentuk karakter pria dalam diri mereka. Sedangkan bagi anak perempuan, ayah menjadi figur pria pertama yang dikenalnya. Sehingga kalau hubungan antara ayah dan anak kurang harmonis, maka anak laki-laki akan sulit menampilkan sisi maskulin dalam dirinya dan anak perempuan mungkin akan sulit percaya terhadap pria. 
Untuk bisa dekat dan dihargai anak, tak perlu para ayah memasang wajah galak tetapi mendekati anak dengan hati yang tulus serta perhatian, bercanda, mendengarkan cerita mereka itulah yang dirindukan dan dibutuhkan oleh anak-anak anda, sehingga dengan mudah kita ajarkan kebenaran & moral yang baik pada mereka.
Pada akhirnya memang anak-anak akan berjalan sendiri melalui berbagai ujian sepanjang hidupnya. Tetapi bekal dari orang tua terutama sosok ayah sangat penting dari sejak dini agar kelak siap menjadi nahkoda yang handal dalam mengarungi samudra kehidupan.
Maka untuk para ayah, jadilah teladan yang baik, Selamat Hari Ayah![fm]

Setiap Anak Memiliki Jiwa Pembelajar

Setiap anak  memiliki jiwa pembelajar,  mereka terlahir dengan rasa keingintahuan dan penasaran yang besar,  mereka belajar dengan caranya sendiri dan terkadang mencari jawaban dengan melancarkan berbagai pertanyaan pada orang-orang disekitarnya. Mengapa begini dan mengapa begitu, terkadang membuat kesal dan jengkel karena mereka selalu tidak puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan.

Salah satu pertanyaan yang membuat mereka sering bertanya adalah “Dari mana dede bayi lahir? Atau kok di perut Bunda bisa ada bayi?”

Proses adanya dede bayi di perut bunda sampai lahirnya adalah hal-hal yang membuat anak-anak antusias dan ternyata tak cukup dijawab dengan, “Allah yang menciptakan  dan menitipkan dede bayi di perut bunda”. Mereka akan balik menjawab dengan pertanyaan ”kenapa di perut bunda? Kok ga di perut ayah?”

Terkadang pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan membuat kita merenung, kadang terharu dan lucu betapa mereka sangat masih polos dan lugu. Tentu mereka akan menerima saja jawaban atau segala informasi yang mereka dapatkan dari orang-orang dan lingkungannya.
Menurut seksolog terkenal dr. Boyke “Bila orang tua bisa memberikan informasi yang tepat, anak akan lebih bertanggung jawab dalam menghadapi hal-hal berhubungan dengan sex
Maka saat anak-anak bertanya sebaiknya kita jangan panik dan langsung memarahi mereka, seandainya mereka bertanya sesuatu berbau sex, perlu di tanamkan di benak kitabahwa mereka sedang belajar, mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar, juga berani mengungkapkan pertanyaan. Bersyukur pula sang anak bertanya pada kita, bukan bertanya pada teman atau berselancar di internet mencari apa yang mereka ingin tahu.

Panik yang dirasakan ketika mendapatkan pertanyaan berbau sex atau seputar sistem reproduksi adalah karena pengetahuan kita belum memadai tentang sex education kepada anak. Apa sikap yang tepat ketika mereka bertanya? Apa jawaban yang bisa membuat mereka mengerti sesuai kebutuhannya?

Jadi bagaimana jikaorang tua belum bisa menjawabnya? Maka lebih baik ditahan dulu untuk menjawabnya. Yang lebih utama diharapkan anak-anak saat mereka bertanya adalah kesediaan kita untuk mendengarkan dan konfirmasi sampai kita tahu apa yang ingin anak ketahui, sehingga jawaban kita akan lebih tepat dan akan lebih mudah menjawab serta yang terpenting membuat kita tenang dan berfikir bagaimana memilih kosa kata yang tepat dan sederhana agar anak dapat memahami dan  mengerti.[fm]

Kenapa Harus Berparenting?

Dimulai Tahun 2000-an kata “Parenting” atau “Cara Pengasuhan yang Benar”mulai akrab ditelinga para orangtua.
Meski sesungguhnya orangtua sudah tak asing lagi dengan kata “pengasuhan”—karena secara naluri dan alami para orangtua akan melakukan pengasuhan dan perlindungan terhadap anak-anaknya dengan cara dan kebiasaan yang sesuai dengan pengalaman dan tradisi dalam keluarganya—namun rangkaian kalimat di atas itumuncul karena proses budaya, yaotidi masa kini banyak keluarga yang justru terancam retak dan kehilangan kenyamanan dirumah, penyebabnya banyak. Tapi antara lain karena anak-anak mereka sulit dikendalikan.
Seorang ibu bercerita tentang betapa rumah terasa sumpek dan memusingkan karena ulah dua anaknya, teriakan, tangisan dan pertengkaran dua anaknya. Hal ini mengakibatkan sang ibu menjadi temperamen, melakukan kekerasan dan memberi hukuman pada kedua anaknya. Sesaat itu semua reda, namun keesokan harinya—seolah kejadian kemarin tak pernah ada—mereka mengulanginya lagi. Bertengkar, kakak merebut mainan adek, tidak mau makan, susah di ajak mandi, inginnya main game terus dan berselilisih karena gadget.
Saat itu bayangan akan “Rumahku Surgaku” hanya angan-angan semata.Karena sang ibu benar-benar sangat lelah, lelah dengan pekerjaan rumah, dan lelah juga menyaksikan pertengkaran, jeritan dan rengekan anak-anak.
Ketika itu, sang ibu merenung, mengevaluasi semuanya dan akhirnya mendapat jawaban, bahwa selama ini pola asuhnya keliru, dia beranggapan mengasuh anak-anak mengalir begitu saja. Padahal seorang filosof mengatakan, “Anak adalah amanah di tangan ibu-bapaknya. Hatinya masih suci ibarat permata yang mahal harganya. Apabila ia dibiasakan pada suatu yang baik dan dididik, niscaya ia akan tumbuh besar dengan sifat-sifat baiknya dan akan bahagia di dunia akhirat. Sebaliknya, bila ia dibiasakan dengan tradisi-tradisi buruk, tidak dipedulikan seperti hewan niscaya ia akan hancur dan binasa.”
Dari sanalah ilmu “Parenting” kini semakin menjamur dan merebak.Berbagai pelatihan, seminar, komunitas dan buku-buku bertema itu semakin bermunculan.  Para orangtua menyambut baik hal ini, karena tidak pernah ada sekolah bagi orangtua.Apalagi ternyata,saat sudah menjadi ‘orangtua’ pun kita tetap perlu menambah ilmu, belajar dan bersosialisasi dengan orangtua lain agar saling mendukung dan saling berbagi pengalaman mereka dalam mengasuh anak-anak.
Parenting mengajarkan mengasuh dan mendidik anak dengan baik dan benar, seperti yang dikatakan oleh sahabat  Abdullah bin Umar r.a

“Didiklah anak-anakmu dengan pendidikan yang baik karena hal itu tanggung jawabmu, sementara kelak (bila dewasa) anak-anakmu bertanggungjawab untuk berbuat baik dan patuh kepadamu.”

Parenting juga mengingatkan bahwa anak adalah anugerah, anak adalah amanah dan anak adalah permata bagi orangtuanya, maka para orangtua harus mensyukuri, menjaga dan melindungi anak-anaknya. Selebihnya parenting mengajarkan kita untuk memendam amarah dan menjadi pendengar yang baik.
Sebab sebenarnya hati para orangtua dan anak-anak selalu cenderung mengarah pada kebaikan, namun ketika para orangtua dan anak belum berhasil menjalin ikatan dan komunikasi dengan baik. Maka akan menemui kebuntuan dalam mengatasi permasalahan.

Semoga dengan memahami dan mengamalkan parenting, kita benar-benar bisa merasakan cinta dan mencintai anak-anak dengan tulus. Menahan amarah bukan semata-mata untuk kita tetapi mendidik mereka agar mereka pun bisa dapat menahan amarah dan bersabar serta mereka dapat memahami orang lain dan bermanfaat bagi orang banyak. Amin ya Rabbal’lamin.[fm]

Tahun Baru Islam, Saatnya Muhasabah


Segala puji bagi Allah, ternyata kita masih diberikan kesempatan untuk menginjak tahun baru Islam 1 Muharram 1436 H.Seperti lazimnya tahun baru, akan muncul harapan untuk setahun kedepan akan jadi lebih baik dari tahun sebelumnya, dan tentunya harapan-harapan itu tak lepas dari introspeksi diri sebagai sarana bagi seorang muslim untuk mencapai harapan hidup lebih baik.
Sekarang kita introspeksi diri bersama, sebagai orang yang diserahi tanggungjawab menjadi pendidik anak dalam keluarga, bekal apa yang sudah kita siapkan untuk anak-anak saat kelak kita harus meninggalkan mereka nanti?Atau pertanyaan yang penting adalah: sudah kuatkah generasi setelah kita menerima amanah kehidupan dunia ini? Sejauh apa kita sudah mempersiapkan mereka di tahun-tahun kemarin? Seperti apa metode yang harus kita persiapkan di tahun yang baru datang ini?
Kita harus ingat bahwa Allah swt berfirman:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisaa`: 9)

Maka merinding dan tercenunglah kita membaca ayat ini, karena kalau mau jujur sebenarnya tugas kita mendidik generasi penerus ini masih jauh darikata kuat. Baik kuat secara keilmuan dan fisik, apalagi secara iman Islam.
Seperti halnya Nabi Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya:

“Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kalian mati kecuali dalam memeluk agama Islam… mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhan-mu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya’.”

Maka apakah kita mau bersikeras mengatakan bahwa didikan kita sudah cukup? Apa parameter dan jaminannya? Tentu kita sudah tahu bahwa jalan yang kelak ditempuh anak-anak ini tidak akan mulus, seberapa kuat kita mempersiapkan bekal mereka baik saat sekarang ketika masih ada atau saat mereka harus berjalan sendiri saat kita sudah tidak ada?

Apalagi bila diingat bahwa bukan hanya kita yang berharap pada mereka. Tapi secara umum—dalam ruang lingkup bangsa dan negara—generasi muda adalah harapan banyak orang untuk meneruskan ekspetasi bangsa yang besar ini. 

Generasi muda dituntut untuk senantiasa bersikap baik,belajar menjadi sosok yang bijak, selalu berada pada landasan yang benar agar dapat merealisasikan cita-cita bangsa. Generasi muda pun mengemban amanat untuk memperjuangkan hak-hak dan cita-cita bangsa. Tidak akan ada negara yang bisa membangun manakala negara tersebut tidak memiliki generasi muda yang bermutu.
Itulah tugas kita, yang harus kita mulai bersama, jadikan tahun baru ini sebagai titik balik perbaikan diri dan perbaikan generasi penerus kita. Untuk menuju hidup bersama yang lebih baik. [fm]

Yuk, Pupuk Kemandirian Anak!


Bayangkan kejadian ini: “Suatu sore sang Kakak yang baru duduk di kelas satu SD menyiapkan air panas  untuk mandi adiknya, yang baru berumur empat tahun. Air panasnya ia simpan dalam ember lalu disiapkan mainan bebek plastik, Sang adikpun gembira dan bersiap-siap untuk segera terjun dalam ember.  Setelah itu sang kakak juga menyiapkan baju untuk dipakai adiknya setelah mandi.”
Apa yang dilakukan sang kakak buat kita orang dewasa adalah pekerjaan yang mudah dan tak istimewa. Namun bagi anak yang masih berumur tujuh tahun, hal itu sangat menantang dan penuh perjuangan.Dari sini kita tahu bahwa sang kakak sudah belajar bagaimana peduli, bersimpati dan empati kepada adiknya dan orang-orang di sekitarnya.
Lebih jauh dari itu, sang kakak sudah belajar mandiri tidak bergantung pada orang tua atau sama si bibi tetapi sang kakak lebih hebat lagi karena ia bisa melakukannya untuk diri sendiri juga orang lain.
Kemandirian pada anak umumnya dikaitkan dengan kemampuan anak untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Apakah itu makan sendiri, memakai baju sendiri, dan menalikan sepatunya sendiri tanpa harus tergantung pada bantuan orang lain. Anak yang mempunyai rasa mandiri akan mampu menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan dan dapat mengatasi kesulitan yang terjadi. Disamping itu anak yang mempunyai kemandirian akan memiliki stabilitas emosional dan ketahanan yang mantap dalam menghadapi tantangan dan tekanan didalam kehidupannya (Hogg & Blau, 2004).
Kemandirian pada anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Di dalam keluarga, orang tualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri.
Terkait dengan pola asuh dan kemandirian anak, sebuah penelitian tentang hubungan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak usia prasekolah, didapatkan hasil bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara pola asuh dan kemandirian dengan kemampuan menyelesaikan masalah. Anak yang lebih mandiri mengatakan bahwa dirumah mereka sering dibiasakan untuk melakukan atau memilih sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan. Seperti, berpakaian sendiri, memakai sepatu sendiri, belajar makan sendiri dan kadang-kadang orang tua mengajak anak untuk melakukan hal-hal kecil dalam membantu pekerjaan rumah. Sementara anak yang tampak kurang mandiri, mereka mengatakan bahwa mereka jarang dilibatkan dalam memilih atau melakukan sesuatu hal, dansegalanya lebih banyak ditentukan oleh orang tua. Seperti, pada saat makan di rumah orang tua selalu menyuapinya, atau ketika anak meminta sesuatu, orang tua otomatis selalu menurutinya
Sebenarnya, tidak hanya pada anak-anak, tetapipada orang-orang dewasa juga, terutama suami istri. Misalnya dalam hal pekerjaan rumahistri tentunya mampu untuk memyelesaikan pekerjaan rumah sendiri, tetapi akan berbeda ketika suami sengaja menyempatkan diri membantu dan membersihkan rumah sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang kepada istrinya, dan sebaliknya, sang istri pun membantu suami, menyiapakan segala keperluan kantor. Keduanya saling berterima kasih, saling membantu dan saling meringankan beban masing-masing. Ikatan cinta dan kasih sayang akan semakin erat.[fm]